Judul : Mickey 17
Sutradara : Bong Joon Ho
Durasi : 139 menit
Genre : Sci-fi
Tahun : 2025
Review ini tidak akan mengandung
spoiler.
Bong Joon Ho kembali dalam garapan teranyarnya bergenre science-fiction yakni Mickey 17 yang rilis pada 5 Maret lalu di Indonesia dan mendapatkan ulasan yang sangat baik di awal perilisannya dengan memperoleh rating 83% di situs Rotten Tomatoes dan skor 75 di IMDB. Perlu diketahui bahwa proyek ini membuat genap karyanya menjadi 10 film setelah terakhir Parasite (2019) menggondol sejumlah penghargaan di Oscar, di antaranya adalah Film Terbaik dan Sutradara terbaik. Tentu itu baru secuil penghargaan setelah dia memenangkan banyak penghargaan juga di film-film pendahulunya. Tak ubahnya Parasite yang membahas mengenai isu sosial, Bong Joon Ho rasanya tetap berani speak up dengan banting setir mempermasalahkan ranah sains. Di mana dalam perkembangan zaman yang tak bisa lepas dari sains dan teknologi, saya rasa membuat jaringan syaraf-syaraf yang ada di tangan Bong “gatal” untuk segera menulis naskah film terbaru bergenre fiksi yang mengangkat isu tentang penyalahgunaan sains, kapitalisme dan konflik akibat keserakahan manusia.
Terilhami dari novel Mickey 7 (2022) karya Edward Ashton, Bong tetap mempertahankan formulanya seperti Parasite dan Snowpiercer dengan memadukan antara dark jokes dan satir terkait sifat manusia yang serakah. Tapi berbeda dengan pendahulunya, kali ini ia lebih berani dengan memindahkan latar tempatnya ke luar angkasa. Jadi mungkin anda sudah bisa membayangkan bahwa film ini akan membawa anda jauh ke suatu planet yang asing nan jauh di sana, di mana teknologi dan kolonisasi akan menjadi titik sentral dari suguhan yang Bong rajut dengan penuh satir di setiap arahannya.
“Apa rasanya mati?”
Itulah pertanyaan
yang paling membuat otak Mickey (Robert Pattinson) penuh sesak dengan satu hal penting:
apa esensi dia mati ketika dia dapat dihidupkan kembali berulang kali? Ya, anda
tidak salah dengar. Mickey tergabung dalam suatu misi yang bernama Expendables
di mana prajurit yang terdaftar pada misi tersebut sudah sepakat untuk menjadi “kelinci
percobaan” untuk dibunuh dan dihidupkan kembali untuk beberapa percobaan tertentu.
Setelah Mickey 1 sampai dengan Mickey 16 tewas akibat eksploitasi yang berkedok
eksplorasi atas nama sains, Mickey 17 agaknya menjadi yang bertahan hidup paling
lama. Selain karena memang judul film ini adalah namanya, Mickey 17 memang
mempunyai karakter yang spesial; ia lebih manusiawi dan menjadi penyempurna
dari pendahulunya.
Namun, sesuatu
yang tidak terduga terjadi. Saat menjalankan misinya sebagai bagian dari
ekspedisi manusia yang bertujuan untuk menjajah sebuah planet es bernama
Niflheim, Mickey 17 ternyata tidak mati seperti seharusnya. Ia justru bertahan
hidup yang membuat situasi menjadi rumit. Bisakah Mickey 17 bertahan menghadapi
tantangan demi tantangan yang mengharuskannya mati yang nantinya ia dapat dihidupkan kembali?
Baiklah, masuk ke review filmnya. Menurut saya film ini sama seperti film luar angkasa yang bertema kolonisasi, yakni mengkritisi keinginan manusia untuk selalu membangun kepemimpinan yang otoriter agar kolonisasi berjalan. Kita mungkin juga tidak asing dengan film Wall-E (2008) yang mengangkat tema serupa. Pun, hal itu semata dilakukan karena keserakahan dan ketamakan yang manusia miliki supaya dapat mempertahankan eksistensinya yang sebenarnya sudah terlebih dahulu mereka rusak dengan cara merusak lingkungan. Karena begini, di film kita tidak akan banyak ditunjukkan kerusakan bumi di sana sini, hanya melalui penggambaran kecil melalui dialog dan tampilan bumi yang sering terkena badai pasir. Uniknya hal ini pernah disinggung Christoper Nolan di filmnya Interstellar (2015) yang menggambarkan kedaaan yang sama saat beberapa daerah di belahan dunia sering diterjang badai pasir karena meningkatnya kadar nitrogen yang membuat bumi semakin tandus dan pada akhirnya memicu badai tersebut. Pada akhirnya manusia lah yang merusak bumi, dan manusia lah yang berlagak menyelamatkan mereka sendiri dari kepunahan dengan cara kolonisasi.
Dibalut dengan
sinematografi yang epik dengan penulisan naskah yang ciamik, Mickey 17 berhasil
memanjakan mata dengan alur yang tersusun rapi dengan penokohan jajaran cast-nya
yang berjalan baik dalam pengembangan setiap karakternya. Robert Pattinson yang
menjadi main character sekaligus MVP dalam film ini berhasil menyajikan akting
kelas wahid dan membuktikan bahwa dirinya memang merupakan aktor berkelas.
Didukung dengan penampilan Mark Rufallo yang berperan sebagai Kenneth Marshall,
ia berhasil membawa kepemimpinan yang otoriter sekaligus menyebalkan dalam
setiap momen.
Banyak sajian
dark jokes yang tadi saya katakan akan terselip di sepanjang film. Meskipun
kebanyakan darinya disajikan secara tersirat, justru Bong berhasil mengeksekusinya
dengan apik sehingga acap kali memunculkan gelak tawa akibat humor gelap yang tidak kita
sadari. Akan banyak dialog absurd yang membuatnya lebih lucu. Mungkin karena
referensinya memang dari dialog barat, penonton yang awam tidak akan banyak
mengerti pemaknaannya. Pun demikian, film barat juga kebanyakan membawa agenda terselubung. Salah satunya kita akan menjumpai ada beberapa adegan yang menggambarkan LGBT secara tersirat. Namun untuk CGI sendiri tidak perlu diragukan. Banyak momen yang tergambarkan dengan cemerlang membuat imajinasi kita tentang
angkasa luar dan planet yang membuat kita kembali pada zaman es terpenuhi dengan
baik.
Film ini juga
menjelaskan bagaimana teori siklus yang dijelaskan Ibnu Khaldun bekerja;
kelahiran, kejayaan, kehancuran, kemudian akan kembali menuju kelahiran dan
begitu seterusnya. Kesalahan-kesalahan manusia yang mendorong pada jurang
kehancuran seperti yang dijelaskan Khaldun dalam teorinya tadi nampak nyata;
membangun koloni yang di dalamnya tercipta eksploitasi manusia, menciptakan kesadaran
palsu kemudian menyebarkan propaganda dengan janji-janji kesejahteraan. Mickey 17 tak ubahnya seperti buruh yang
selalu dieksploitasi oleh borjuis (pemilik modal) untuk memenuhi semua kebutuhan
dalam koloni dan tak memiliki hak untuk hidup layak. Hal ini pada akhirnya akan
mendorong diskursus lebih panjang mengenai moral, etika sains dan kemanusiaan.
Saya juga memiliki penilaian sendiri terhadap penyalahgunaan sains. Di sepanjang film kita mengetahui bahwa ada 17 Mickey yang sudah mati dan dihidupkan kembali. Andai kata di dunia nyata ada alat canggih yang bisa memulihkan Kembali manusia yang telah mati, apakah akan ada regulasi yang benar-benar secara ketat mengawal penemuan tersebut? Berarti harus ada “Mickey-Mickey” lain yang harus menjadi percobaan. Saya berpendapat bahwa penelitian atas nama sains membuat manusia berlagak seperti tuhan; membangkitkan yang mati, melawan hukum alam atas nama kolonisasi. Kita pasti sependapat bahwa kuasa tuhan adalah hal mutlak. Tapi nyatanya penelitian untuk menghidupkan kembali manusia atau membuat manusia berumur panjang masih terus saja dilakukan. Bahkan kita mungkin tau bahwa Nasa dan SpaceX berencana memindahkan umat manusia ke Mars, entah kapan. Yang pasti, dengan lonjakan populasi yang diproyeksi per tahun 2100 umat manusia akan berjumlah 10 miliyar dan dibarengi dengan krisis iklim yang menjadi isu paling nyata di depan mata, bukan tidak mungkin bahwa kolonisasi di Mars akan terus dicanangkan. Dari pada mencanangkan kolonisasi di Mars, bukannya kita harus menjaga lingkungan ini agar selalu nyaman untuk ditinggali sampai generasi yang akan datang?
Overall, Mickey 17 merupakan karya di awal tahun 2025 yang saya apresiasi dengan tinggi karena film ini berhasil menyentil sendi-sendi kemanusiaan dalam ranah sains. Dan dengan film ini, sekali lagi Bong Joon Ho mengukuhkan diri sebagai pembuat film yang tidak pernah gagal membuat penonton terhibur sekaligus tercerahkan. Sedikit catatan bahwa terdapat beberapa adegan 18+ yang membuat film ini saya rasa tidak cocok ditonton saat puasa. Hemat saya film ini akan menjadi “kesukaan” pengamat dan pecinta film utamanya untuk mereka yang menyukai film barat yang dibungkus dengan plot cerdas dan anti mainstream.
Score: 8,5/10


Komentar
Posting Komentar