Derap kaki penuh darah, terdengar lirih ketika hamparan langit telah merebahkan sang surya Kembali terjaga tatkala lampu jalan mengusik gelapnya kota agar dapur tetap menyala L angkah kaki itu tak akan berhenti di tengah pandemi M enghimpit situasi tak pasti , langkahmu sendiri kini Sungguh ironi, tirani dalam pikiran sendiri Ditopang pemberontakan-pemberontakan Fondasimu diluluhlantakkan Adalah persekongkolan runyam bani adam dalam dekapan penuh kekuasaan Menyisakan kabut angkara dalam jurang kesenjangan Sementara rongronganmu berhasil luput dari kisi-kisi sempit diantara rumah-rumah yang dicumbu sembilu Ada peluhmu yang justru main mata dengan kelembutan yang ditawarkan sang bayu Nasib baik naluri masih keras hati dalam membaca situasi Yang menciutkan nyali pada siapa saja yang berani Yang memelihara segala lara Menjaga harmoni dari dinasti yang tak lagi berpegang pada janji Sebelum serangan balik dilancarkan dar...