Derap kaki penuh darah, terdengar lirih
ketika hamparan langit telah merebahkan sang surya
Kembali terjaga tatkala lampu jalan mengusik gelapnya kota agar
dapur tetap menyala
Langkah kaki itu tak akan berhenti di tengah pandemi
Menghimpit situasi tak pasti, langkahmu sendiri kini
Sungguh ironi, tirani dalam pikiran sendiri
Ditopang pemberontakan-pemberontakan
Fondasimu diluluhlantakkan
Adalah persekongkolan runyam bani adam
dalam dekapan penuh kekuasaan
Menyisakan kabut angkara dalam jurang kesenjangan
Sementara rongronganmu berhasil luput dari kisi-kisi sempit
diantara rumah-rumah yang dicumbu sembilu
Ada peluhmu yang justru main mata
dengan kelembutan yang ditawarkan sang bayu
Nasib baik naluri masih keras hati dalam membaca
situasi
Yang menciutkan nyali pada siapa saja yang berani
Yang memelihara segala lara
Menjaga harmoni dari dinasti yang tak lagi berpegang
pada janji
Sebelum serangan balik dilancarkan dari balik bilik
Sebelum agresi menjarah segala hal baik
Ingat, kita pernah seliang bersama
Pernah meradang merana
Sabdamu tak sepatutnya bersemayam
dalam semesta yang bermuram durja
Tak sepatutnya jua kodratmu kau gadaikan
dengan balutan cela
Gejolak nadimu akan selalu mengiringi teka-teki esok
hari
Sebagai upaya restorasi merah berani dengan putih suci
Sisa-sisa selongsong perlawanan
Terseok dalam gemuruh asa kebebasan
Dan terbaring berselimutkan doa dan harapan
Tuhan mana yang tidak bangga
Melihat kaum yang sudah jera tersiksa
Tersenyum senang; menang
Tetapi hidup, harus berjalan.
Ponorogo,
23 April 2020
Komentar
Posting Komentar