Sumber ilustrasi: Wikipedia
Food, Inc (2008)
Genre : Dokumenter
Rating IMDB : 7,8
Pernahkah terbayang dalam pikiran kita untuk menonton film dokumenter yang mengupas habis mengenai industri makanan di negeri dengan julukan ”Paman Sam"? . Barangkali film Food, Inc bisa menjadi bahan referensi sekaligus bahan pembelajaran bagi kita tentang praktik distribusi dan pengolahan makanan yang ada di Amerika. Mungkin kita selalu berfikir bahwa menyantap makanan kenamaan seperti KFC, Burger King, McD, dan lain sebagainya adalah hal yang patut dibanggakan dan dipamerkan melalui sosial media.
Namun, di balik itu semua ada rahasia kelam dalam glamornya industri makanan khususnya makanan cepat saji. Film ini mengajak kita berkontemplasi sekaligus berpikir kritis tentang bagaimana bahan makanan tersebut diolah, didistribusikan, sampai dampak yang disebabkan oleh makanan tersebut bagi tubuh kita.
Jika kita benar-benar memahami pesan maupun makna yang disampaikan dalam film, kita seakan ditampar oleh kenyataan bahwa implementasi di pabrik bahan baku makanan sering kali melupakan hal-hal detail tentang kebersihan dan mutu dari proses pengolahan makanan tersebut mulai dari perlakuan, kesehatan hewan ternak hingga bagaimana hewan ternak tersebut sampai ke penyembelihan.
Film ini juga menjelaskan kepada kita bahwa produksi pangan secara keseluruhan telah berubah secara drastis sejak 1950. Hal ini disebabkan karena produksi makanan dijalankan oleh banyak perusahaan multinasional, produksi pangan global yang menekankan pada produk bisnis dan memiliki tujuan memproduksi makanan dalam jumlah besar dengan input yang rendah untuk menghasilkan keuntungan yang besar. Perubahan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat kemajuan teknologi selain membawa dampak positif tentu juga membawa dampak negatif yang membuat segelintir orang rakus akan keuntungan dan memanfaatkan hal tersebut untuk mengeksploitasi sendi-sendi bisnis dengan memanfaatkan laju kemajuan IPTEK.
Faktor lain yang mendukung pernyataan ini adalah bahwa pasokan makanan dunia tidak akan cukup untuk memenuhi seluruh penduduk secara global. Maka dari itu, haruslah dilakukan pembaruan-pembaruan pada pengolahan makanan seperti lebih cepat, lebih besar, lebih murah, namun pada akhirnya melupakan kualitas atau mutu atas makanan tersebut.
Jika ditarik benang merahnya, film ini akan membuat kita lebih berhati-hati dan jeli dalam memilih makanan. Kalau perlu, kita harus tau langsung bagaimana produk makanan tersebut diolah dan melalui proses apa saja. Film ini juga berpesan bahwa dalam praktiknya, pabrik atau industri makanan harus melalui pengawasan yang ketat agar tidak terjadi kegagalan fungsi sebagai pengolahan makanan yang tak lupa akan tugasnya untuk memberikan makanan yang bergizi dengan mutu yang terjamin untuk hajat orang banyak.
Yang menjadi kekuatan utama dalam film ini selain makna, adalah proses penggarapannya yang sangat bagus. Alur cerita film sangat runtut dan membuat kita paham bagaimana pabrik makanan melakukan cacat produksi. Selain itu, film dokumenter ini juga disampaikan dan di-develop dengan sangat baik oleh sutradaranya. Hal ini dibuktikan dengan footage yang tepat dan menarik, serta pertanyaan yang penting saat wawancara dalam menggali makna dan peristiwa.
Namun menurut saya yang kurang dalam film ini adalah dinamika film yang terlalu serius dan tidak memberikan penonton waktu untuk jeda atau ice breaking sejenak dalam memahami setiap rentetan peristiwa dalam film tersebut.
Food, Inc. dengan sendirinya mungkin bukan agent of change yang akan menjaga kesehatan dan kesejahteraan kita dan membuat makanan terasa seperti lima puluh tahun yang lalu, tetapi ini adalah awal yang penting dan harus dilihat oleh siapa pun yang cinta akan makanan. Saya berharap film ini dapat membantu orang untuk menjadi lebih sadar akan makanan mereka, dan semakin kita memikirkannya, semakin banyak makanan enak dan sehat yang akan kita dapatkan.
Jika ditinjau dari segi teoritis, yang disajikan film ini mengenai pengolahan makanan adalah keberhasilan penetrasi identitas produk kapitalis. Bagaimana produk kapitalis tersebut dipasarkan dengan pendekatan yang sangat ramah kepada masyarakat, sehingga masyarakat sangat mencintainya dan merasa produk tersebut adalah bagian dari dirinya. Namun secara tidak sadar, masyarakat yang terbawa akan produk kapitalis tersebut akan terus-terusan membeli dan jika perlu akan mati-matian membela produk tersebut.
Contoh saja peristiwa McD Sarinah yang ditutup 10 Mei kemarin. Kita bisa melihat bahwa peristiwa tersebut mengundang empati bagi masyarakat banyak untuk turun langsung ke jalan dalam upaya menjegal penutupan gerai makanan cepat saji tersebut. Padahal, situasinya sedang PSBB dan pada akhirnya menciptakan kerumunan yang sulit dihindarkan. Jika memakai istilahnya Antonio Gramsci, hal ini disebut ”hegemoni”. Hal ini pula yang menurut Gramsci menyebabkan kelas proletar lupa jika mereka sedang dieksploitasi kapitalis, membuat revolusi menumbangkan kapitalisme seperti yang diprediksi Marx tidak pernah terjadi.
Rating pribadi: 7,5
Komentar
Posting Komentar