Langsung ke konten utama

Review Film One Day (2016) : Kisah Cinta Seorang Nolep yang Berhasil Membuat Mewek Sampai Akhir

Sumber ilustrasi: Imdb


Judul : One Day
Director : Banjong Pisanthanakun
Durasi : 135 menit
Tahun : 2016
Rating IMDB : 7,7

TOTALLY NO SPOILER!!!

”Nui, hari ini adalah tanggal 11 Februari. Kau mengalami hilang ingatan atau semacamnya. Besok kau akan melupakan semua yang terjadi hari ini. Tapi aku tak ingin kau lupa. Karena hari ini, kau menemukan seseorang yang mencintaimu lebih dari siapapun. Jika pria ini datang kepadamu, kau harus memberinya kesempatan!”


            Hai guys kembali lagi bersama saya. Gimana kabar kalian? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya! Kali ini saya akan membahas sekaligus me-review film dari Negeri Gajah Putih. Bicara mengenai film, Thailand memang rajanya dalam membuat film komedi hingga romance yang khas dan berbeda dari yang lainnya.

             Walaupun begitu, kita sebagai penonton film Indonesia tetap dapat menikmati film Thailand dengan baik karena kultur dan latar belakang budaya yang tak jauh dengan kita. Tak berbeda dengan film yang akan saya bahas sekarang dengan judul One Day yang rilis pada tahun 2016. Disutradarai oleh sutradara kenamaan Banjong Pisanthanakun dengan jajaran pemain diantaranya Chantavit Dhanasevi dan Nittha Jirayungyurn, film ini berhasil menyabet penghargaan Thailand National Film Association Awards pada tahun 2017 untuk aktor dan aktris terbaik oleh Chantavit Dhanasevi dan Nittha Jirayungyurn.

            Film One Day berkisah tentang seorang karyawan IT bernama Denchai (Chantavit Dhanasevi) yang sangat cuek dengan penampilannya yang membuatnya buruk rupa. Ia merupakan tipikal orang yang nolep dan kurang perhatian terhadap lingkungan dan teman-teman di sekitarnya. Suatu hari, Denchai jatuh cinta pada rekan kerjanya Nui (Nittha Jirayungyurn) sementara Nui adalah karyawan baru di divisi marketing, tipikal wanita kantoran yang fashionable dan selalu menjaga penampilan. Sayangnya cinta Denchai bertepuk sebelah tangan. Seperti teman-teman kantornya, Nui hanya menganggap Denchai sebagai invisible man yang hanya dibutuhkan ketika komputer mereka mengalami masalah.

            Tak cukup hanya bertepuk sebelah tangan, drama kisah cinta Denchai semakin rumit kala perusahaan tempatnya bekerja beserta seluruh karyawannya pergi ke Hokkaido, Jepang untuk menjalani liburan di sana yang mengubah seluruh alur cerita dalam hidupnya. Ada apa gerangan di Hokkaido? Dan bagaimana kelanjutan kisah dari Denchai dan Nui? Apakah Denchai mampu memiliki Nui seutuhnya?

            Itulah sedikit cuplikan dari film One Day (2016). Meskipun terlihat sederhana, nyatanya One Day memiliki development film yang luar biasa hebat. Saya benar-benar mencintai kesederhanaan yang dibawa oleh para pemeran-pemeran baik yang utama maupun pendukung. Pada awal film kita akan diperlihatkan sebuah drama konflik batin seorang nolep; bagaimana ia gagal berinteraksi dengan lingkungannya, selalu diremehkan, ada namun tidak dianggap, dan yang paling penting adalah bagaimana ia bisa merasakan cinta dan membuatnya merasa spesial.

            Awal yang agak klise, namun setelah menit 20, film ini saya rasa telah berubah 180° dengan tempo yang cepat dan progresif serta mampu membuat kita bertanya-tanya ada apa kedepannya dengan dua karakter utama yang ada. Dua karakter utama di sini, baik Chantavit dan Nithha memiliki kemampuan akting yang sangat baik sepanjang film, seperti Denchai (Chantavit) yang merupakan orang IT dengan penampilan seadanya dan juga Nui (Nithha) yang merupakan karyawan baru dan berusaha selalu terlihat ceria dan fashionable.

           Fluiditas antara tokoh satu dengan lainnya benar-benar cair dan bersahaja walaupun sepanjang film kita akan lebih disuguhkan oleh dua tokoh utama yang mabuk akan cinta. Selain itu, bentang alam Hokkaido di Jepang divisualisasikan dengan sangat baik dengan sinematografi serta perpaduan picture yang membuat mata sejuk memandang petualangan dua tokoh utama dalam menikmati keindahan saat salju turun waktu itu di tempat demi tempat yang silih berganti pada Hokkaido. Cerita di film ini mayoritas dibawakan dengan sangat lambat, sehingga ketika ada perubahan mood di satu scene ke scene lain, penonton tidak merasa kaget dan bisa meresapinya dengan baik.
                Salah satu hal yang membuat asyik saat menonton film-film Thailand adalah jalan ceritanya yang tidak terduga. Film-filmnya sekilas mengambil jalan cerita yang ringan namun ternyata tak sesimpel yang dibayangkan. Dan One Day menurut saya telah melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai film yang simpel namun sebenarnya memiliki kompleksitas yang cukup tinggi. Banyak hal tak terduga yang kerap diselipkan pada klimaks cerita. Seperti terbersit dalam film One Day yang mampu membuat penonton terharu saat melihat adegan flashback dimana Denchai yang ternyata tak hanya sekedar jatuh cinta pada Nui, namun ia juga menjadi seorang pengagum rahasia.

            Selain itu, film One Day juga menawarkan ending cerita yang membangokan alias tak terduga. Jika banyak film-film romance lain yang main aman dengan menghadirkan ending cerita bahagia, film-film Thailand justru lebih berani dengan menghadirkan bahkan tak sedikit pula yang menggantung. Yap, ending seperti inilah yang tersaji dalam film One Day. Jadi siap-siap saja ya dibuat kesal dengan ending ceritanya.

            Well, amanat yang bisa saya tangkap dalam film ini adalah kita sebagai makhluk sosial hendaknya harus bisa menjalin komunikasi dengan baik sehingga bisa percaya diri nantinya. Kita bisa lihat bahwa karakter Denchai yang nolep membuatnya kuper dan tertinggal dari yang lain. Selain itu, ternyata buat orang yang tulus, bahagia itu memang sederhana. Saya belajar banyak dari tokoh Denchai dengan pemahamannya tentang cinta; bahwa cinta cenderung membuat kita melakukan hal-hal yang tidak rasional dan membuat kita berani melakukan apapun demi orang yang kita sayangi.

        Menurut saya penting dalam film ini adalah setinggi apapun dinding kesenjangan yang menghalangi kita, kita harus berani mengungkapkan perasaan cinta kita kepada orang yang kita cintai. Entah berujung penolakan atau persetujuan, semua tidak benar-benar menjadi penting karena yang paling utama adalah kita menjadi berani dan tidak menjadi seorang pengecut. Kita tidak benar-benar tau sejauh mana sebuah kesempatan akan menuntun kita pada takdir, kelak.

            Overall, Film ini cocok buat kalian yg suka nonton film drama, terutama yang buatan Thailand. Dan siap-siap jadi baper dengan nonton film ini. Cerita cinta rumit yang disajikan Banjong dan Ter dalam kolaborasinya sebagai sutradara dan penulis naskah ini berjalan dengan lambat yang dibalut dalam durasi super panjang namun berhasil mencuri hati saya. Yang sudah nonton filmnya, bisa share pengalaman atau kesan kalian juga ya! Kalau boleh, bisa diceritakan berapa hari kalian bisa move on dari film ini? Heheh.


My personal rate : 8/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Film Food, Inc (2008) : Dokumenter yang Berhasil Menyentuh Sendi-sendi Kapitalisme dalam Makanan

          Sumber ilustrasi: Wikipedia Food, Inc (2008) Genre : Dokumenter Rating IMDB : 7,8                Pernahkah terbayang dalam pikiran kita untuk menonton film dokumenter yang mengupas habis mengenai industri makanan di negeri dengan julukan ”Paman Sam"? . Barangkali film Food, Inc bisa menjadi bahan referensi sekaligus bahan pembelajaran bagi kita tentang praktik distribusi dan pengolahan makanan yang ada di Amerika. Mungkin kita selalu berfikir bahwa menyantap makanan kenamaan seperti KFC, Burger King, McD, dan lain sebagainya adalah hal yang patut dibanggakan dan dipamerkan melalui sosial media.                Namun, di balik itu semua ada rahasia kelam dalam glamornya industri makanan khususnya makanan cepat saji. Film ini mengajak kita berkontemplasi sekaligus berpikir kritis tentang bagaimana bahan makanan tersebut diolah, didistribusikan, sampai dampak yang dis...

Lelah

  Kurasa, kamu mulai menjauh dariku Kamu seperti tidak mengenaliku lagi Mengapa? Setidaknya beri aku alasan yang sesungguhnya Menurutmu lari mengejar sesuatu tidak membuatku lelah? Ya, aku lelah! Kamu sama sekali tidak pernah menengok ke belakang untuk melihatku! Aku mulai terbiasa memperhatikanmu dari belakang yang kini bahagia karena dia Memang aku bukan siapa-siapa Namun di sini, aku selalu ada Tapi sudah kubilang bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa!