Bisakah kita menuliskan semua kenangan-kenangan kita yang perlahan memudar pada buku itu? Hanya berdua saja
Aku hanya ingin baik-baik saja dengan mengingat
Semua tentangmu
Semua playlist lagu yang kita sukai dulu
Bahkan momen konyol kita saat perayaan ulang tahunmu yang ke 11 kala itu
Mengingat hari-hari di mana kita biasa membunuh waktu
Menjelajahi lembar demi lembar kenangan yang menempa rasaku untukmu
Yang terus menuntunku sampai menginjak kepala dua usiamu
Aku ingin menuangkannya tanpa ada selembar pun yang terlewat
Sampai di akhir buku itu tertulis kata tamat
“Tapi semuanya sudah ditakdirkan bukan?,” tanyaku
“Percayalah, bukan itu yang aku yakini kini," jawabmu dengan yakin
Aku hanya mematung untuk beberapa saat karena nyatanya, sangat sulit untuk menjelaskannya
Keheningan itu seraya mendidihkan segenap darah di setiap penjuru otakku, seolah semua tertuju pada momen ini
"Mengapa kau begitu peduli padaku sejak dulu?"
"Eh?," jawabmu singkat
"Apa karena aku sahabatmu sejak kecil atau, adakah rasa yang lain?"
"Ehh??"
"Kau menganggap aku ini apa?"
"Kau sega..
...lanya"
Ah sial, semua ini karena nostalgia ya?
Aku bertanya-tanya pada sebelah ruang di hatiku
Dalam kurun waktu yang tak sebentar kau dan aku mencari arah
Berkali-kali jatuh cinta pada selatan
Penuh keraguan pada barat
Selalu menunggu angan dari timur
Sampai utara pun tak lagi dipercaya
Sudah kutapaki banyak kisah, kujejaki berbagai luka
Pada akhirnya, hanya pada kisah kitalah harapan itu nyata
Seberapa kuat kau dan aku berjalan?
Mencoba bertahan atau pergi hilang dan lupakan?
Mungkin, kita harus terima bila suatu saat akan dipisahkan oleh persimpangan
Atau mungkin, pulang merupakan sebuah jawaban.
Aku hanya ingin baik-baik saja dengan mengingat
Semua tentangmu
Semua playlist lagu yang kita sukai dulu
Bahkan momen konyol kita saat perayaan ulang tahunmu yang ke 11 kala itu
Mengingat hari-hari di mana kita biasa membunuh waktu
Menjelajahi lembar demi lembar kenangan yang menempa rasaku untukmu
Yang terus menuntunku sampai menginjak kepala dua usiamu
Aku ingin menuangkannya tanpa ada selembar pun yang terlewat
Sampai di akhir buku itu tertulis kata tamat
“Tapi semuanya sudah ditakdirkan bukan?,” tanyaku
“Percayalah, bukan itu yang aku yakini kini," jawabmu dengan yakin
Aku hanya mematung untuk beberapa saat karena nyatanya, sangat sulit untuk menjelaskannya
Keheningan itu seraya mendidihkan segenap darah di setiap penjuru otakku, seolah semua tertuju pada momen ini
"Mengapa kau begitu peduli padaku sejak dulu?"
"Eh?," jawabmu singkat
"Apa karena aku sahabatmu sejak kecil atau, adakah rasa yang lain?"
"Ehh??"
"Kau menganggap aku ini apa?"
"Kau sega..
...lanya"
Ah sial, semua ini karena nostalgia ya?
Aku bertanya-tanya pada sebelah ruang di hatiku
Dalam kurun waktu yang tak sebentar kau dan aku mencari arah
Berkali-kali jatuh cinta pada selatan
Penuh keraguan pada barat
Selalu menunggu angan dari timur
Sampai utara pun tak lagi dipercaya
Sudah kutapaki banyak kisah, kujejaki berbagai luka
Pada akhirnya, hanya pada kisah kitalah harapan itu nyata
Seberapa kuat kau dan aku berjalan?
Mencoba bertahan atau pergi hilang dan lupakan?
Mungkin, kita harus terima bila suatu saat akan dipisahkan oleh persimpangan
Atau mungkin, pulang merupakan sebuah jawaban.
Komentar
Posting Komentar