Taukah kamu?
Sebetulnya aku adalah tipe orang yang tidak percaya dengan sebuah “kebetulan” di dunia iniTermasuk pertemuan kita
Maksudku pertemuanku denganmu
Pertemuan kita singkat, sederhana. Tapi benar-benar terjadi
Saat akhirnya kita berteman, diam-diam aku selalu mengharapkan adanya pesan demi pesan, demikian pula pertemuan demi pertemuan
Aku harap ada hari yang sama, waktu yang sama, kesempatan yang sama, dan orang yang sama pula
Hanya kau dan aku, kelak
Taukah kamu?
Kalau kemudian hari-hariku berubah
Banyak diisi senyuman dan senyuman
Atau, rindu dan rindu
Atau, bisikan untuk… bilang yang sebenarnya? Begitu?
Ah tidak, bukan seperti itu
Sejak awal aku mengagumimu, aku sendiri ragu akan perasaanku
Aku takut kamu akan lebih menemukan kebahagiaan lainnya di luar sana, dengan seseorang selain diriku
Aku memang manusia egois yang selalu merasa ragu karena aku selalu mengagumimu dari dulu, tapi akulah yang tak mau mengaku
Yang selalu memilih untuk bersembunyi di relung kalbu, di balik kelambu jiwamu
Ah, apapun itu, mungkin aku memang manusia egois yang hanya ingin menikmati indahmu dari sisi tergelapku
Yang hanya ingin menetap di sepasang bola matamu yang indah itu sepanjang waktu
Tapi, biarlah itu semua terjadi
Cukuplah aku bahagia dengan apa yang kupunya saat ini
Saat bersamamu saja
Menjadi manusia yang bahagia seutuhnya, yang sesungguhnya
Entah ini memang bahagia yang sesungguhnya, atau imajinasiku yang terlalu terlatih untuk mengada-ada?
Entah dengan melihatmu tersenyum aku merasakan hal yang sama, atau semua hanya karena aku tak memiliki pilihan?
Entahlah. Tapi yang jelas dapat memilikimu dalam diam bagiku lebih dari cukup untuk menggambarkan arti dari sebuah kata bahagia ini
Kini, aku menyadari sesuatu; bahwa jatuh cinta adalah sama halnya dengan kematian
Kita tak akan pernah tau kapan, di mana, dan bagaimana kita akan menutup mata, begitu pula dengan jatuh cinta.
Komentar
Posting Komentar