Langsung ke konten utama

Review Film A Quiet Place Part 2 (2021) : Sunyi, Menegangkan!

Sumber ilustrasi: Imdb


 Judul : A Quiet Place Part 2

Director : John Krasinki
Durasi : 97 menit
Genre : Drama, horror, sci-fi
Tahun : 2021


TOTALLY NO SPOILER!!!

                Hai guys! Kembali lagi bersama saya. Gimana kabar dari kalian? Semoga dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya! Film sekuel A Quiet Place yakni A Quiet Place Part 2 yang sempat tertunda pada Maret tahun lalu akibat pandemi akhirnya rilis pada tanggal 26 Mei 2021 kemarin di sebagian besar bioskop di Indonesia yang sudah mulai beroperasi di tengah pandemi.


            John Krasinki kembali menahkodai sekuel ini sebagai sutradara, penulis naskah sekaligus aktor setelah sebelumnya mendapat tempat yang sama pada film pendahulunya. Sebelumnya, kita tentu tau bahwa film sekuel ataupun kelanjutan dari film pertama mayoritas lebih buruk dari film pertamanya diakibatkan ole beberapa hal, salah satunya adalah kerakusan pihak studio film karena tergiur oleh keuntungan pada film pertamanya. Namun hal ini tidak berlaku pada A Quiet Place Part 2 yang menjawab semua keraguan penonton sampai kritikus film dengan sajian yang bisa dikatakan sama baiknya dengan film pertama; epik dan membuat jantung berdetak kencang sampai akhir.

          A Quiet Place Part 2 dibuka dengan adegan flashback, tepatnya sebelum para alien menyerang. Lee Abbott (John Krasinski) kala itu sedang menyaksikan pertandingan baseball anaknya, Marcus Abbott (Noah Jupe). Istri dan anak perempuannya, Evelyn Abbott (Emily Blunt) dan Regan Abbott (Millicent Simmonds) saat itu juga ikut menemani. Kala Marcus mendapat giliran memukul bola, semua orang yang ada di stadion tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke langit; sebuah meteor datang menghujam bumi.

            Dari adegan tersebut, A Quiet Place Part 2 berpindah ke masa kini, melanjutkan adegan terakhir di film pertamanya. Keluarga Abbott yang ditinggal sang ayah dan bayi Evelyn yang baru lahir memutuskan untuk meninggalkan peternakan mereka yang porak poranda diserang alien. Mereka mencoba mencari “peruntungan” baru dari sesama penyintas di dunia luar yang tersisa.
Kala menyusuri sebuah kota yang sepi, keluarga Abbott tiba-tiba terperangkap sebuah jebakan.

            Bunyi yang ditimbulkan membuat keberadaan mereka diketahui para alien yang sensitif akan suara itu. Beruntung, seorang pria bertopi menyelamatkan mereka yang ternyata adalah teman lama Lee, yakni Emmett (Cillian Murphy). Mampukah mereka bertahan dari serangan alien ganas yang menyerang bumi? Apakah mereka dapat diselamatkan atau akan bertahan dengan kemampuannya sendiri?
    
        Menurut saya, banyak yang berubah dari film sekuel ini namun fokusnya tetap sama; bagaimana bertahan hidup di tengah kepungan alien yang destruktif akan suara. Namun, A Quiet Place Part 2 menawarkan skala yang lebih besar, lebih kompleks, di mana salah satunya terlihat pada kisahnya.

            Salah satu perbedaan yang mencolok dari film ini adalah karakternya yang sudah dapat berkomunikasi karena selain mereka telah menemukan kelemahan dari alien tersebut, fim ini juga berganti setting pada sebuah bunker yang kedap suara. Kesan ini memberikan pembeda di mana para karakter diberi kesempatan menunjukkan karakterisasinya lewat interaksi sosial yang terjalin di antara mereka.

        A Quiet Place Part 2 disampaikan dalam beberapa plot dengan masing-masing plot yang memiliki karakter utamanya. Plot-plot tersebut sejatinya berjalan secara paralel, namun pada akhirnya berakhir di titik yang sama. Hal ini memberi kesempatan pada karakter-karakter seperti Regan dan Marcus untuk mendapatkan arc-nya sendiri. Masing-masing karakter juga mengalami perubahan dibandingkan yang pertama. Ada yang mulai merasa bertanggung jawab atas keluarganya hingga berani mengambil langkah, ada yang menemukan harapan baru di tengah situasi sulit, tapi ada juga yang mulai merasakan lelah setelah bertahan selama ini.

            Character development-nya menjadi lebih matang, berkembang, berbeda dibanding prekuelnya yang dititikberatkan pada Evelyn dan Lee yang cenderung sentris. Pemilihan setting tempat yang khas ala-ala film-film apokalips memungkinkan Krasinki sebagai sutradara untuk lebih mengeksplorasi ancaman demi ancaman yang datang silih berganti.

             Di sekuel ini, drama yang disajikan lebih kompleks. Masuknya Emmet dan sejumlah karakter lain di sini membuat ceritanya lebih berwarna. Selain itu, deskripsi makhluk itu dan kelemahannya juga semakin tereksplorasi di sini. Emosi juga dipermainkan dengan adanya dua alur cerita paralel yang berjalan sekaligus. Satu cerita mengikuti perjalanan Regan dan satu cerita mengikuti perjalanan Marcus.

            Dan menurut saya karena salah satu fokus utama film ini adalah suara, A Quiet Place Part 2 masih mendewakan teknis scoring, di mana konstruksi ketegangan dibangun dari alunan musik yang awful serta membuat jantung berdebar kencang. Damn, it’s giving me a fright. Scoring yang di-treatment dengan baik serta diperhatikan setiap detailnya membuat film ini juara dalam hal scoring.
            Saya sangat menaruh perhatian pada akting setiap jajaran cast dalam film ini yang bermain dengan sangat baik, terutama Millicent Simmonds yang bermain dengan brilian dengan kesabaran dan kecerdikannya. Cillian Murphy juga tampil sangat baik dalam memerankan karakter baru Emmet yang menampilkan sosok ambigu sepanjang film baik tentang latar belakang serta karakternya yang masih abu-abu walaupun tidak diberikan porsi lebih untuk mengaktualisasikan karakternya.

            Emmet adalah orang yang putus asa dan hanya ingin bertahan hidup. Namun, kehadiran Evelyn dan anak-anaknya akhirnya menggugah semangatnya untuk mencari jalan keluar. Sementara, Evelyn tampil sebagai wanita tangguh dan kuat yang akan melakukan apa pun demi anak-anaknya. Regan tumbuh menjadi gadis mandiri yang kuat dan Marcus, meski memiliki rasa tanggung jawab yang besar, pada awalnya menyimpan banyak rasa khawatir.

            Well, amanat yang disampaikan dalam film ini diantaranya adalah kasih sayang orang tua dalam melindungi anaknya. Evelyn sebagai orang tua tunggal berusaha mati-matian untuk bertahan hidup dan melindungi anak-anak mereka yang tersisa tak peduli nyawa yang menjadi taruhannya. Selain itu, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak bisa menghindarkan kesalahpahaman yang akan timbul nantinya di masa depan kelak. Kita bisa tau bahwa setelah di film pertama lewat apa yang dilaluinya serta kematian adiknya, Regan dan Marcus menjadi sosok yang dewasa dan senantiasa aktif berkomunikasi dengan orang tuanya untuk bersama-sama menyelamatkan hidup mereka.

            Overall, A Quiet Place Part Part 2 lagi-lagi menegaskan bahwa sebuah sekuel dari film pertama tidak bisa dianggap sepele. Dengan eksekusi yang mantap dan development plot serta karakter yang hebat, sebuah sekuel bisa lebih bagus dibanding prekuelnya. A Quiet Place Part 2 tidak hanya well-executed, tetapi meningkatkan apa saja yang spesial dari film pertamanya, baik dari sisi cerita, horror, maupun teknis suara. Saya sangat menyarankan menonton film ini di bioskop selagi ada karena sensasi menonton di bioskop akan jauh lebih terasa daripada di hp atau laptop kecil yang kentang dengan file bajakan. Yang sudah nonton filmnya bisa share pengalaman kalian juga ya!


My personal rate : 8/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Film Food, Inc (2008) : Dokumenter yang Berhasil Menyentuh Sendi-sendi Kapitalisme dalam Makanan

          Sumber ilustrasi: Wikipedia Food, Inc (2008) Genre : Dokumenter Rating IMDB : 7,8                Pernahkah terbayang dalam pikiran kita untuk menonton film dokumenter yang mengupas habis mengenai industri makanan di negeri dengan julukan ”Paman Sam"? . Barangkali film Food, Inc bisa menjadi bahan referensi sekaligus bahan pembelajaran bagi kita tentang praktik distribusi dan pengolahan makanan yang ada di Amerika. Mungkin kita selalu berfikir bahwa menyantap makanan kenamaan seperti KFC, Burger King, McD, dan lain sebagainya adalah hal yang patut dibanggakan dan dipamerkan melalui sosial media.                Namun, di balik itu semua ada rahasia kelam dalam glamornya industri makanan khususnya makanan cepat saji. Film ini mengajak kita berkontemplasi sekaligus berpikir kritis tentang bagaimana bahan makanan tersebut diolah, didistribusikan, sampai dampak yang dis...

Review Film One Day (2016) : Kisah Cinta Seorang Nolep yang Berhasil Membuat Mewek Sampai Akhir

Sumber ilustrasi: Imdb Judul : One Day Director : Banjong Pisanthanakun Durasi : 135 menit Tahun : 2016 Rating IMDB : 7,7 TOTALLY NO SPOILER!!! ”Nui, hari ini adalah tanggal 11 Februari. Kau mengalami hilang ingatan atau semacamnya. Besok kau akan melupakan semua yang terjadi hari ini. Tapi aku tak ingin kau lupa. Karena hari ini, kau menemukan seseorang yang mencintaimu lebih dari siapapun. Jika pria ini datang kepadamu, kau harus memberinya kesempatan!”                Hai guys kembali lagi bersama saya. Gimana kabar kalian? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya! Kali ini saya akan membahas sekaligus me-review film dari Negeri Gajah Putih. Bicara mengenai film, Thailand memang rajanya dalam membuat film komedi hingga romance yang khas dan berbeda dari yang lainnya.                  Walaupun begitu, kita sebagai penonton film Indonesia tetap dapat menikmati film Thailand den...

Lelah

  Kurasa, kamu mulai menjauh dariku Kamu seperti tidak mengenaliku lagi Mengapa? Setidaknya beri aku alasan yang sesungguhnya Menurutmu lari mengejar sesuatu tidak membuatku lelah? Ya, aku lelah! Kamu sama sekali tidak pernah menengok ke belakang untuk melihatku! Aku mulai terbiasa memperhatikanmu dari belakang yang kini bahagia karena dia Memang aku bukan siapa-siapa Namun di sini, aku selalu ada Tapi sudah kubilang bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa!